Palu, VoxNusantara,– Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, akhirnya memberikan klarifikasi terkait video viral yang memperlihatkan ketegangan antara dirinya dan massa aksi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tolitoli saat demonstrasi menolak aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Tolitoli.
Video berdurasi sekitar 1 menit 29 detik yang beredar luas di media sosial memicu berbagai reaksi publik. Dalam potongan video tersebut, terdengar ucapan seorang pejabat yang mengatakan, “jabat tangan dulu de, kalau tidak kita pulang,” yang kemudian memunculkan berbagai tafsir di tengah masyarakat.
Sehari setelah aksi yang berlangsung ricuh itu, sejumlah pihak bahkan mendesak Gubernur Sulawesi Tengah dan Bupati Tolitoli untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
Menanggapi polemik tersebut, Anwar Hafid menegaskan bahwa persoalan sebenarnya telah selesai di lapangan dan telah diselesaikan secara baik-baik antara dirinya dan para pimpinan aksi.

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (6/6/2026), Anwar menjelaskan bahwa sebelum meninggalkan Kabupaten Tolitoli menuju Palu, sejumlah perwakilan demonstran telah menemuinya untuk berdialog.
“Sebelum meninggalkan Tolitoli, beberapa pimpinan demo sudah menemui saya. Mereka meminta maaf, dan saya pun juga menyampaikan permintaan maaf. Selesai. Apalagi yang mau dipermasalahkan?” kata Anwar Hafid.
Menurut gubernur, narasi yang berkembang di publik perlu dilihat secara utuh berdasarkan kronologi kejadian yang sebenarnya. Ia membantah anggapan bahwa dirinya memaksa mahasiswa untuk berjabat tangan.
Anwar menjelaskan bahwa saat itu dirinya justru mendatangi massa aksi dan mengulurkan tangan sebagai bentuk penghormatan serta iktikad baik untuk membuka komunikasi.

“Gubernur mendatangi pendemo dan mengulurkan tangan dua kali untuk berjabat tangan, tapi yang memakai baju HMI tidak mau menerima jabat tangan saya. Jadi saya bilang, kalau begitu saya pulang, tidak usah juga dengar tuntutanmu,” ujarnya.
Ia menilai potongan video yang beredar tidak menggambarkan keseluruhan peristiwa sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Karena itu, Anwar meminta publik melihat rekaman secara lengkap agar dapat memahami konteks kejadian secara menyeluruh.
Menurutnya, uluran tangan yang diberikan saat itu merupakan bentuk ketulusan dan upaya membangun komunikasi yang baik antara pemerintah dan mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
“Saya tidak memaksakan. Saya mengulurkan tangan dengan tulus dan ikhlas, itu bisa dilihat di rekaman video secara utuh,” tegasnya.
Anwar juga mengaku merasa kecewa ketika uluran tangan tersebut tidak mendapat respons dari peserta aksi. Menurutnya, sikap saling menghormati merupakan bagian penting dalam membangun dialog yang konstruktif.
“Karena uluran tangan itu tidak diterima, saya bilang kalau begitu saya juga tidak mau mendengar tuntutanmu, karena menurut saya tidak ada attitude atau etika sama sekali,” katanya.
Meski sempat memicu polemik, Gubernur menegaskan bahwa persoalan tersebut telah selesai dan tidak ada lagi masalah antara dirinya dan para pimpinan aksi yang telah melakukan komunikasi langsung setelah kejadian berlangsung.
Demonstrasi yang digelar HMI Cabang Tolitoli tersebut sebelumnya menyoroti persoalan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Tolitoli.*













